Beranda » Transaksi Non-Tunai F&B Surabaya Tembus 78 Persen, Pelaku Usaha Didorong Perkuat Digitalisasi

Transaksi Non-Tunai F&B Surabaya Tembus 78 Persen, Pelaku Usaha Didorong Perkuat Digitalisasi

SURABAYA, Selasarnusantara.com – Digitalisasi semakin menjadi bagian penting dalam perkembangan bisnis makanan dan minuman (F&B) di Kota Surabaya. Data ESB Data Center per Agustus 2026 mencatat sebanyak 78 persen transaksi F&B di Surabaya dilakukan secara non-tunai.

Angka tersebut menunjukkan semakin kuatnya perubahan pola pembayaran konsumen sekaligus meningkatnya pemanfaatan teknologi digital oleh pelaku usaha kuliner di Kota Pahlawan.

Selain transaksi non-tunai, PT Esensi Solusi Buana (ESB) mencatat jumlah merchant F&B di Surabaya mengalami pertumbuhan sebesar 32 persen dalam satu tahun terakhir. Pada periode yang sama, transaksi dari merchant yang sudah beroperasi atau same-store juga meningkat hampir 10 persen.

Persaingan Bisnis Kuliner Semakin Ketat

Pertumbuhan bisnis F&B tersebut berlangsung di tengah persaingan usaha yang semakin ketat. Pelaku usaha tidak hanya menghadapi bertambahnya jumlah kompetitor, tetapi juga harus berhadapan dengan kenaikan biaya bahan baku, sewa tempat, listrik hingga biaya tenaga kerja.

F&B Educator & Management Consultant Agung Haryadi menilai kondisi tersebut merupakan konsekuensi dari pertumbuhan Surabaya sebagai kota metropolitan.

Menurutnya, pelaku usaha kuliner tidak cukup hanya mengandalkan popularitas atau tren sesaat. Bisnis membutuhkan diferensiasi yang jelas, efisiensi operasional serta kemampuan membaca data untuk mengambil keputusan.
“Pasar F&B Surabaya sekarang keras.

Nyaris tiap ruko kosong jadi kafe baru, tapi jumlah konsumennya tidak bertambah secepat itu,” kata Agung.

Ia menilai bisnis yang mampu bertahan adalah usaha yang memiliki sistem operasional kuat dan tidak hanya bergantung pada momentum viral.

Teknologi Jadi Pendukung Efisiensi

Di tengah tekanan biaya operasional, teknologi dinilai dapat membantu pelaku usaha mengelola bisnis secara lebih efisien.

ESB memperkenalkan sejumlah solusi digital untuk mendukung operasional bisnis kuliner, termasuk ESB POS, ESB Order serta OLIN berbasis kecerdasan buatan.

OLIN memanfaatkan data transaksi merchant untuk menghasilkan custom data insights. Data tersebut dapat digunakan pelaku usaha untuk membaca kondisi bisnis, meningkatkan penjualan hingga menentukan menu yang berpotensi didorong melalui program promosi.

Sementara ESB Order dikembangkan sebagai layanan pemesanan yang mencakup kebutuhan dine in, takeaway dan delivery. ESB menyebut layanan tersebut menerapkan komisi 5 persen.

CEO & Co-Founder ESB Gunawan mengatakan efisiensi menjadi semakin penting ketika pelaku usaha menghadapi kenaikan biaya bahan baku dan margin yang semakin tipis.

“Ketika harga bahan baku naik dan margin semakin tipis, setiap persen biaya yang bisa dihemat jadi keputusan strategis,” ujar Gunawan.

Data Transaksi Jadi Dasar Pengambilan Keputusan

Menurut Gunawan, transaksi yang dilakukan konsumen tidak hanya berhenti sebagai aktivitas pembayaran. Data dari setiap transaksi dapat dimanfaatkan sebagai bahan evaluasi sekaligus dasar untuk menentukan strategi bisnis berikutnya.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam kegiatan Kopdar Racik Bisnis F&B yang digelar ESB di Surabaya. Forum tersebut mempertemukan pemilik dan pengelola usaha kuliner dengan praktisi untuk membahas strategi pertumbuhan serta pemanfaatan teknologi.

ESB juga menilai sistem digital yang terintegrasi dapat membantu pelaku usaha mengurangi pekerjaan administratif dan meningkatkan kontrol terhadap operasional.

Co-Founder & CEO Mr Suprek Teofilus Hartono mengatakan sistem yang kuat menjadi fondasi penting bagi bisnis kuliner yang ingin berkembang.

“Viral itu penting untuk membangkitkan curiosity. Namun, yang membuat pelanggan kembali dan bisnis bertahan adalah sistem yang kuat di belakangnya,” ujarnya.

Digitalisasi Bantu Bisnis dengan Banyak Gerai

Pemanfaatan sistem terintegrasi juga dirasakan pelaku usaha yang memiliki lebih dari satu gerai.

Owner Guri Ramen Surabaya & Malang Andre Setiawan mengungkapkan bahwa sebelum menggunakan sistem terintegrasi, pihaknya harus menggabungkan data kasir, stok dan laporan penjualan secara manual.

Dengan sistem yang terintegrasi, data transaksi dapat terhubung dengan informasi stok dan laporan tersedia secara real-time. Kondisi tersebut membuat pengelolaan bisnis dengan beberapa lokasi menjadi lebih mudah dikontrol.

Surabaya Jadi Salah Satu Kota Program Edukasi F&B

Kopdar Racik Bisnis F&B merupakan bagian dari program edukasi ESB yang menyasar pemilik, pendiri serta pengambil keputusan dalam bisnis kuliner.

Surabaya menjadi salah satu dari 10 kota yang menjadi lokasi program tersebut. Selain diskusi dan mentoring, kegiatan juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai komunitas bisnis lokal.

Program tersebut turut didukung BCA sebagai Official Payment Partner. Integrasi EDC BCA dan QRIS dengan ESB POS memungkinkan transaksi tercatat dalam sistem kasir sehingga dapat membantu proses rekonsiliasi keuangan.

Hingga 2026, ESB menyatakan telah melayani lebih dari 30.000 merchant aktif di Indonesia dengan total nilai transaksi yang telah melampaui Rp65 triliun.

Pertumbuhan transaksi non-tunai hingga 78 persen di Surabaya menjadi gambaran bahwa teknologi semakin tidak terpisahkan dari aktivitas bisnis kuliner. Bagi pelaku F&B, digitalisasi bukan hanya soal menyediakan metode pembayaran, tetapi juga bagaimana memanfaatkan data untuk meningkatkan efisiensi, menjaga kualitas layanan dan mempertahankan bisnis di tengah persaingan.

Reporter : Tyas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *