GRESIK,Selasarnusantara.com – Hubungan Gresik dengan Nahdlatul Ulama (NU) tidak hanya terlihat dari aktivitas organisasi di masa kini. Sejarah mencatat, wilayah Gresik memiliki jaringan ulama dan pesantren yang terhubung erat dengan tokoh-tokoh penting NU, termasuk para ulama dari Jombang.
Salah satu nama yang menjadi bagian penting dari jejak tersebut adalah KH Faqih Maskumambang. Ulama asal Gresik itu memiliki hubungan keilmuan, organisasi, dan keluarga dengan sejumlah tokoh yang berada di pusat perkembangan awal NU.
Jejak tersebut kembali menemukan konteksnya ketika Muktamar NU ke-35 digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
KH Faqih Maskumambang dan Awal Perjalanan NU
KH Faqih Maskumambang dikenal sebagai salah satu ulama besar yang lahir dan berkembang dari lingkungan pesantren di Gresik.
Jaringan keilmuan yang dimilikinya tidak hanya terbentuk di tanah air. KH Faqih juga pernah memperdalam ilmu agama di Makkah dan berinteraksi dengan sejumlah ulama yang memiliki pengaruh besar dalam tradisi keilmuan Islam Nusantara.
Keluasan ilmu tersebut kemudian menjadi modal penting dalam kiprahnya ketika organisasi NU mulai dibangun.
KH Faqih tercatat memiliki kedekatan dengan KH Hasyim Asy’ari, salah satu pendiri NU yang berbasis di Jombang. Keduanya menjadi bagian dari jaringan ulama yang ikut membangun fondasi organisasi keagamaan tersebut.
Gresik dan Jombang Terhubung Lewat Jaringan Pesantren
Hubungan antara Gresik dan Jombang pada masa itu tidak sekadar hubungan antarwilayah.
Pesantren menjadi ruang bertemunya para ulama, santri, gagasan, dan jaringan keluarga. Dari lingkungan tersebut kemudian terbentuk hubungan yang melampaui batas administratif daerah.
Hubungan KH Faqih Maskumambang dengan KH Hasyim Asy’ari menjadi salah satu contoh bagaimana jaringan pesantren Gresik dan Jombang saling terhubung.
Keterkaitan itu juga semakin kuat melalui hubungan keluarga di antara keluarga pesantren kedua wilayah.
Warisan Keilmuan Menjadi Bagian Penting
Jejak Gresik dalam sejarah NU juga tidak dapat dilepaskan dari tradisi intelektual para ulamanya.
KH Faqih Maskumambang dikenal tidak hanya melalui kiprah organisasi dan dakwah, tetapi juga melalui karya-karya keilmuan.
Tradisi tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan NU sejak awal tidak hanya dibangun melalui aktivitas organisasi. Pendidikan pesantren, pengajaran kitab, penulisan, dan pengembangan ilmu menjadi bagian penting dalam membangun fondasi gerakan ulama.
Warisan intelektual itu kemudian diteruskan melalui generasi pesantren berikutnya.
Muktamar NU Kembali Mempertemukan Gresik dan Jombang
Puluhan tahun setelah masa awal berdirinya NU, hubungan Gresik dan Jombang kembali terlihat dalam momentum Muktamar NU ke-35.
Muktamar yang berlangsung di Jombang menjadi pertemuan besar warga NU dari berbagai daerah, termasuk Gresik.
Kehadiran masyarakat dan sejumlah elemen NU dari Gresik menunjukkan bahwa hubungan kedua daerah tersebut tetap hidup dalam dinamika NU masa kini.
Bukan hanya dalam forum organisasi, keterlibatan masyarakat juga hadir melalui berbagai bentuk pelayanan, dukungan, dan aktivitas sosial selama pelaksanaan muktamar.
Dari Sejarah Ulama hingga Kepemimpinan NU
Muktamar NU ke-35 juga menghadirkan kepemimpinan baru dengan terpilihnya KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026-2031.
Gus Kikin merupakan tokoh pesantren dari Jombang. Ia dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, salah satu pesantren penting dalam sejarah NU.
Terpilihnya Gus Kikin kembali menempatkan Jombang sebagai salah satu pusat penting dalam dinamika kepemimpinan NU.
Sementara itu, Gresik tetap memiliki jejak historis melalui jaringan ulama seperti KH Faqih Maskumambang yang sejak masa awal telah menjadi bagian dari perjalanan NU.
Sejarah yang Terus Bersambung
Hubungan Gresik dan Jombang menunjukkan bahwa sejarah NU dibangun melalui jaringan yang panjang.
Ulama, pesantren, keluarga, pendidikan, dan organisasi menjadi penghubung antargenerasi. Jejak tersebut tidak berhenti pada tokoh-tokoh masa lalu, tetapi terus menemukan bentuk baru dalam berbagai kegiatan NU hingga saat ini.
Muktamar NU ke-35 menjadi salah satu momentum yang memperlihatkan kesinambungan tersebut.
Dari Maskumambang di Gresik hingga Tambakberas di Jombang, perjalanan sejarah NU menunjukkan bahwa kekuatan organisasi tidak hanya berada pada struktur formal, tetapi juga pada jaringan pesantren dan ulama yang telah terbangun selama puluhan tahun.
