Beranda » Dua Smelter Freeport di Gresik Siap Beroperasi, Kapasitas 3 Juta Ton

Dua Smelter Freeport di Gresik Siap Beroperasi, Kapasitas 3 Juta Ton

GRESIK, Selasarnusantara.com – Dua smelter milik PT Freeport Indonesia (PTFI) di Gresik, Jawa Timur, siap kembali beroperasi. Kedua fasilitas tersebut memiliki kapasitas pemurnian hingga 3 juta ton konsentrat tembaga per tahun.

Presiden Direktur PTFI Tony Wenas menyampaikan informasi tersebut di Tembagapura, Papua Tengah, Senin (17/8/2026). Dua fasilitas itu terdiri atas smelter baru PTFI di kawasan KEK JIIPE, Manyar, dan smelter PT Smelting.

Dua Smelter Siap Beroperasi Bersama

Smelter PT Smelting mengalami gangguan dan berhenti beroperasi sejak 8 Agustus 2026. Sementara itu, smelter PTFI di Manyar berhenti beroperasi sejak kuartal IV 2025 karena keterbatasan pasokan konsentrat tembaga.

Gangguan pasokan tersebut berkaitan dengan insiden longsor di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC), Tembagapura. Kondisi itu berdampak pada pasokan konsentrat untuk fasilitas pengolahan Freeport di Gresik.

Kini, PTFI menyatakan kedua smelter siap kembali menjalankan kegiatan pemurnian. Perusahaan juga menyiapkan fasilitas tersebut untuk mendukung pemulihan produksi.

“Saat ini smelter PTFI di Gresik telah siap untuk beroperasi kembali dan bersama smelter PT Smelting yang juga kita miliki akan memiliki kapasitas pemurnian 3 juta ton konsentrat tembaga setiap tahun,” kata Tony Wenas.

Gresik Jadi Pusat Pemurnian Tembaga

Beroperasinya dua smelter Freeport di Gresik akan meningkatkan kapasitas pemurnian konsentrat tembaga di kawasan tersebut. Total kapasitas kedua fasilitas mencapai sekitar 3 juta ton per tahun.

Tony menyebut kondisi tersebut menjadikan Gresik sebagai salah satu pusat pemurnian tembaga terbesar dalam sejarah hilirisasi Indonesia.

Menurutnya, fasilitas tersebut juga memperkuat komitmen Freeport dalam meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.

Selain itu, keberadaan dua smelter memperkuat posisi Gresik dalam rantai industri pengolahan mineral. Proses pemurnian yang berlangsung di dalam negeri dapat meningkatkan nilai tambah komoditas tembaga.

Produksi Freeport Naik Bertahap

PTFI memperkirakan tingkat produksi perusahaan pada 2026 baru mencapai sekitar 65 persen dari kapasitas.

Perusahaan akan meningkatkan produksi secara bertahap seiring pemulihan kegiatan pertambangan.

Freeport memperkirakan kontribusi kepada negara mencapai sekitar Rp47 triliun pada tahun ini. Angka tersebut dapat meningkat ketika produksi kembali mencapai kapasitas penuh.

Tony mengatakan kontribusi Freeport kepada negara bisa melampaui Rp100 triliun per tahun. Ia bahkan memproyeksikan angka tersebut dapat mencapai sekitar Rp120 triliun saat produksi mencapai 100 persen.

“Kalau sudah 100 persen kontribusi kepada negara bisa luar biasa besar, lebih dari Rp100 triliun, mungkin Rp120 triliun setiap tahunnya,” ujar Tony.

Target Produksi 100 Persen pada 2027
PTFI menargetkan peningkatan kapasitas produksi secara bertahap.

Pada semester I 2027, perusahaan menargetkan produksi mencapai sekitar 75 persen.

Selanjutnya, PTFI menargetkan produksi kembali mencapai 100 persen pada semester II 2027. Peningkatan tersebut akan mendukung pemulihan aktivitas pertambangan dan pengolahan mineral.

Jika target tersebut tercapai, kontribusi Freeport kepada negara juga berpotensi meningkat. Perusahaan memproyeksikan kontribusi dapat mencapai sekitar Rp120 triliun per tahun saat produksi beroperasi penuh.

Beroperasinya kembali dua smelter Freeport di Gresik menjadi bagian penting dari pemulihan produksi.

Langkah tersebut sekaligus memperkuat hilirisasi dan rantai pengolahan tembaga di Indonesia.

Reporter: Tyas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *