KEDIRI, Selasarnusantara.com – Menjelang pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama, sejumlah masyayikh dan pengasuh pondok pesantren terkemuka di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) mengeluarkan seruan penting demi menjaga khittah, marwah, serta persatuan organisasi.
Seruan tersebut disampaikan dalam agenda Ramah Tamah Masyayikh Nahdlatul Ulama yang digelar di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur, Sabtu (20/6/2026) atau bertepatan dengan 4 Muharam 1448 Hijriah.
Dalam pernyataan bersama, para masyayikh menegaskan pentingnya penyelenggaraan Munas Alim Ulama dan Konbes NU dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian, kebijaksanaan, serta tanggung jawab demi menjaga hubungan historis, kultural, dan spiritual antara Nahdlatul Ulama dengan kalangan pesantren dan ulama.
Para masyayikh secara tegas meminta agar tidak ada pembahasan maupun keputusan yang berpotensi mengurangi atau menggeser posisi strategis pesantren dan ulama dalam tubuh organisasi.
Salah satu poin penting yang menjadi sorotan adalah terkait mekanisme pemilihan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Para masyayikh menilai AHWA harus tetap dipertahankan sebagai forum keulamaan yang bertumpu pada kedalaman ilmu, keteladanan akhlak, keluasan pengabdian, serta pengakuan keulamaan di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Karena itu, para masyayikh meminta agar usulan penambahan syarat calon anggota AHWA yang harus berasal dari unsur pengurus syuriyah serta didasarkan pada representasi kewilayahan dibatalkan. Selain itu, usulan perubahan terhadap larangan rangkap jabatan politik juga diminta untuk tidak diberlakukan.
Tidak hanya itu, para ulama juga menegaskan bahwa pesantren merupakan rumah besar Nahdlatul Ulama yang selama ini menjadi pusat transmisi ilmu, akhlak, tradisi, dan kaderisasi kepemimpinan keulamaan.
Atas dasar tersebut, para masyayikh berharap Muktamar Nahdlatul Ulama Tahun 2026 dapat diselenggarakan di lingkungan pondok pesantren sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah, tradisi, dan mata rantai keilmuan yang menjadi fondasi utama NU dalam mengabdi kepada agama, bangsa, negara, dan kemanusiaan.
Para masyayikh juga menyerukan kepada seluruh peserta, penyelenggara, pimpinan, serta seluruh unsur Nahdlatul Ulama agar senantiasa menjaga akhlak, adab musyawarah, serta mengedepankan persatuan dan kesatuan organisasi.
“Penghormatan kepada ulama, penguatan peran pesantren, dan terjaganya persatuan merupakan modal utama bagi Nahdlatul Ulama untuk terus menjalankan khidmahnya bagi agama, bangsa, negara, dan kemanusiaan,” demikian salah satu poin dalam seruan tersebut.
Seruan ini ditandatangani oleh sejumlah ulama dan masyayikh senior, di antaranya KH. Nurul Huda Jazuli, KH. Anwar Manshur, KH. A. Kafabihi Mahrus, Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, KH. R. Muhammad Khalil As’ad, KH. Abdullah Ubab Maimoen, hingga Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim.
Dengan adanya seruan ini, para masyayikh berharap seluruh rangkaian Munas Alim Ulama dan Konbes NU dapat berlangsung dengan suasana yang teduh, penuh persaudaraan, serta tetap berpijak pada khittah Nahdlatul Ulama sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah yang lahir dan tumbuh dari rahim pesantren.
