SURABAYA, Selasarnusantara.com – DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Surabaya Raya mendorong mahasiswa untuk mengambil peran sebagai jurnalis warga yang berani, kritis, dan mampu menjaga kebenaran di tengah derasnya arus informasi digital.
Melalui Pelatihan Jurnalistik Batch #2 yang berlangsung di Hanako Social Space, Surabaya, GMNI Surabaya Raya bersama Rumah Literasi Digital (RLD) membekali kader dari berbagai daerah di Jawa Timur dengan kemampuan jurnalistik sekaligus pemahaman tentang tantangan dunia informasi saat ini.
Ketua DPC GMNI Surabaya Raya, Ni Kadek Ayu Wardani, menegaskan bahwa jurnalistik memiliki posisi penting dalam perjuangan mahasiswa. Menurutnya, tulisan tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi sarana untuk mengedukasi masyarakat dan mengawal jalannya kekuasaan.
“Jurnalistik bagi kaum pergerakan adalah alat perjuangan. Melalui tulisan, kita harus mampu mendidik rakyat dengan pergerakan sekaligus mendidik penguasa dengan perlawanan. Kita tidak boleh apolitis karena diam adalah bentuk pengkhianatan,” ujarnya.
Kadek menilai mahasiswa perlu menguasai keterampilan jurnalistik agar mampu menghadirkan informasi yang bermanfaat sekaligus membangun kesadaran publik terhadap berbagai persoalan sosial.
Selain mengasah kemampuan menulis, peserta pelatihan juga mempelajari cara memverifikasi informasi. Ketua Rukun Warta RLD, Fatchur Rohman, mengingatkan pentingnya mengecek fakta sebelum menyebarkan informasi kepada publik.
Ia menekankan bahwa masyarakat tidak boleh menerima informasi secara mentah tanpa melakukan pemeriksaan terhadap sumber dan data pendukungnya.
“Setiap informasi tidak boleh langsung diterima begitu saja. Informasi harus melewati proses cek sumber, perbandingan data, konfirmasi langsung, dan pemeriksaan visual. Cepat boleh, salah jangan,” tegasnya.
Dalam sesi berikutnya, mentor GMNI Anom Surahno mengajak peserta memahami perubahan pola konsumsi informasi yang terjadi akibat perkembangan teknologi digital.
Ia menjelaskan bahwa algoritma media sosial kini memiliki pengaruh besar dalam membentuk cara pandang masyarakat terhadap suatu peristiwa.
“Zaman saya mahasiswa, membaca majalah Tempo atau koran Kompas dianggap keren karena ada monopoli sumber informasi. Sekarang tidak ada lagi. Yang menentukan persepsi kebenaran hari ini adalah algoritma di ponsel Anda,” kata Anom.
Menurutnya, perubahan tersebut memunculkan tantangan baru bagi dunia jurnalistik. Masyarakat kini dapat memperoleh informasi hanya dalam hitungan detik, tetapi kecepatan itu sering kali mengurangi ruang untuk melakukan verifikasi.
Anom menilai banyak orang lebih tertarik menjadi yang pertama membagikan informasi dibanding memastikan kebenarannya terlebih dahulu.
“Lima detik setelah kejadian, informasi ingin langsung sampai. Sayangnya, kecepatan sering kali mengesampingkan kebenaran. Kebenaran tidak bisa diperlakukan seperti itu, harus ada proses cek dan ricek,” ujarnya.
Karena itu, Anom mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan jurnalistik sebagai sarana memperjuangkan kepentingan masyarakat, terutama kelompok yang selama ini jarang mendapat perhatian.
Ia mengingatkan peserta agar tidak hanya mengejar popularitas atau konten viral, melainkan menghadirkan karya jurnalistik yang mampu menyuarakan persoalan rakyat.
“Perhatikan itu warga pinggiran, mereka yang kecil, lemah, dan tidak memiliki suara. Petani yang kehilangan lahan, pengemudi ojek online yang terkena suspend, hingga pelaku UMKM yang usahanya terdampak perubahan algoritma harus menjadi bagian dari perjuangan kita,” katanya.
Selama pelatihan, GMNI dan RLD mengajarkan teknik dasar jurnalistik mulai dari unsur 5W+1H, teknik wawancara, pengumpulan data, penulisan berita dengan struktur piramida terbalik, hingga proses penyuntingan naskah.
Panitia juga menugaskan peserta untuk turun langsung ke lapangan, mengamati peristiwa, mewawancarai narasumber, lalu menyusun laporan berdasarkan fakta yang mereka temukan.
Menutup kegiatan, Anom meminta mahasiswa terus mengasah kemampuan menulis dan tidak takut melakukan kesalahan selama proses belajar.
“Jangan takut salah ketika belajar menulis. Yang harus ditakuti adalah ketika kita diam saat kebenaran dibengkokkan. Takutlah jika kita hanya menjadi korban algoritma. Jadilah orang yang mengatur algoritma melalui narasi-narasi yang jujur,” pungkasnya.
