- Gresik,Selasarnusantara.com– Harapan masyarakat untuk memperoleh keringanan beban ekonomi pada pertengahan tahun justru dihadapkan pada dua persoalan sekaligus. Sejumlah Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai daerah dilaporkan menghentikan operasional sementara akibat kendala pencairan anggaran, sementara harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi mengalami kenaikan signifikan.
Program MBG yang menjadi salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi anak-anak sekolah dan kelompok rentan kini menghadapi tantangan serius. Beberapa penyedia layanan makanan disebut belum menerima pembayaran operasional sesuai jadwal, sehingga aktivitas distribusi makanan terpaksa dihentikan sementara.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai keberlanjutan program yang selama ini diharapkan mampu membantu pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat sekaligus mendukung pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
Di sisi lain, masyarakat juga harus menghadapi kenaikan harga BBM nonsubsidi. Harga Pertamax dilaporkan mencapai Rp16.250 per liter di sejumlah wilayah. Kenaikan ini diperkirakan berdampak langsung pada biaya transportasi, distribusi barang, hingga harga kebutuhan pokok yang berpotensi ikut mengalami penyesuaian.
Pengamat ekonomi menilai, kombinasi tersendatnya pelaksanaan program sosial dan meningkatnya biaya energi dapat memberikan tekanan tambahan terhadap daya beli masyarakat.
Terutama bagi kelompok menengah ke bawah yang masih menghadapi tantangan pemulihan ekonomi.
“Masyarakat tentu berharap program-program strategis pemerintah dapat berjalan optimal. Di saat yang sama, stabilitas harga kebutuhan dasar juga menjadi faktor penting untuk menjaga daya beli,” ujar seorang pengamat kebijakan publik.
Pemerintah sendiri disebut tengah menyiapkan berbagai langkah evaluasi guna memastikan program MBG dapat kembali berjalan normal serta mengkaji sejumlah kebijakan untuk mengurangi dampak kenaikan harga BBM terhadap masyarakat.
Dampak yang Berpotensi Terjadi
Biaya transportasi dan logistik meningkat.
Harga kebutuhan pokok berpotensi mengalami kenaikan.
Operasional pelaku UMKM menjadi lebih berat.
Distribusi makanan dalam program MBG terganggu.
Daya beli masyarakat berisiko melemah
