SURABAYA, Selasarnusantara.com – Kawasan Ekowisata Mangrove Wonorejo kembali menjadi lokasi aksi penyelamatan lingkungan. Yayasan ECOTON bersama lebih dari 21 siswa homeschooling tingkat SD hingga SMP, tiga mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), serta sejumlah relawan menggelar kegiatan “Make Mangrove Green Again” dengan membersihkan sampah plastik yang menjerat akar-akar mangrove.
Aksi tersebut tidak hanya berfokus pada pembersihan kawasan pesisir, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda mengenai pentingnya menjaga ekosistem mangrove sebagai pelindung alami kawasan pantai.
Founder ECOTON, Prigi Arisandi, menjelaskan bahwa keberadaan sampah plastik yang melilit akar mangrove dapat mengganggu proses pertumbuhan pohon.
Menurutnya, plastik yang menutup lentisel atau pori-pori pada batang dan akar mangrove dapat menghambat proses pertukaran oksigen sehingga memengaruhi kesehatan bahkan kelangsungan hidup tanaman.
Selain itu, plastik yang terus terpapar sinar matahari, gelombang, dan gesekan akan terurai menjadi mikroplastik yang jauh lebih sulit dibersihkan serta berpotensi mencemari rantai makanan di kawasan pesisir.
“Kondisi ini bukan hanya mengancam mangrove, tetapi juga berbagai biota yang hidup di dalamnya. Menjaga mangrove berarti menjaga rumah bagi ikan, kepiting, udang, burung, dan berbagai satwa pesisir lainnya,” jelas Prigi saat memberikan edukasi kepada peserta.
Sebelum melakukan aksi bersih-bersih, peserta diajak menyusuri kawasan mangrove menggunakan perahu sambil mempelajari fungsi ekologis hutan mangrove sebagai pelindung pantai dari abrasi, penyerap karbon biru (blue carbon), sekaligus habitat berbagai spesies laut.
Setelah sesi edukasi, seluruh peserta turun langsung membersihkan kawasan mangrove. Dalam waktu sekitar 30 menit, mereka berhasil mengumpulkan lebih dari 20 karung sampah berukuran 25 kilogram.
Sampah yang ditemukan didominasi botol plastik sekali pakai, kantong kresek, kemasan sachet, sedotan, sandal, hingga berbagai jenis plastik yang terbawa aliran sungai menuju kawasan mangrove.
Salah satu peserta, Abdullah, siswa kelas 2 SD, mengaku terkejut melihat banyaknya sampah yang melilit akar mangrove.
“Tadi aku habis ambili sampah plastik yang melilit akar pohon. Banyak banget sampahnya dan sulit dilepaskan dari akar pohon manggrovenya. Aku berharap orang-orang tidak membuang sampah sembarangan dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai,” ujarnya.
Pengalaman serupa juga dirasakan Nashwa, siswi kelas 1 SD, yang untuk pertama kalinya mengikuti kegiatan bersih pantai.
Ia mengaku berhasil mengumpulkan dua karung sampah dan bertekad membiasakan penggunaan botol minum serta wadah makan yang dapat dipakai berulang kali untuk mengurangi sampah plastik.
Sementara itu, salah seorang orang tua peserta, Ariesta, menilai kegiatan tersebut memberikan pengalaman belajar yang tidak bisa diperoleh hanya di dalam kelas.
Menurutnya, anak-anak dapat melihat secara langsung dampak pencemaran plastik terhadap lingkungan sekaligus belajar membangun kebiasaan menjaga alam sejak usia dini.
ECOTON menilai pendekatan edukasi yang dipadukan dengan aksi nyata di lapangan menjadi cara efektif menumbuhkan kepedulian lingkungan pada generasi muda.
Melalui kegiatan Make Mangrove Green Again, organisasi tersebut juga mengajak masyarakat untuk menghentikan kebiasaan membuang sampah ke sungai karena sebagian besar sampah yang mencemari kawasan mangrove berasal dari aliran sungai.
Langkah sederhana seperti membawa botol minum sendiri, menggunakan tas belanja pakai ulang, serta memilah sampah dari rumah dinilai dapat menjadi kontribusi nyata dalam menjaga mangrove sebagai benteng alami pesisir sekaligus habitat berbagai biota laut.
