SURABAYA, SElasarnusantara.com – Teknologi kecerdasan buatan atau AI membantu restorasi foto lama yang kusam, berjamur, sobek, atau rusak. Pemanfaatan teknologi ini menjadi bagian dari praktik dalam Kuliah Umum Museum Digital UNAIR.
Kegiatan tersebut mengusung tema AI dan Warisan Budaya di Era Digital. Acara berlangsung di Majapahit Hall, Gedung ASEEC Tower, Kampus B-Dharmawangsa UNAIR, Sabtu (8/8/2026).
Praktisi dan filmmaker AI, Deni Adi Santoso, menjadi salah satu pemateri dalam kegiatan tersebut. Ia mengajak peserta memanfaatkan AI untuk merawat arsip, melakukan restorasi foto, dan membuat konten sejarah.
AI Bantu Restorasi Foto Lama
Deni menjelaskan AI dapat mempercepat proses restorasi foto lama. Teknologi tersebut dapat membantu memperbaiki foto yang kusam, berjamur, sobek, atau memiliki kualitas gambar rendah.
Sebelumnya, masyarakat banyak menggunakan Photoshop untuk memperbaiki foto lama. Proses tersebut dapat memerlukan waktu hingga dua jam.
Kini, AI dapat membantu mempercepat sejumlah tahapan restorasi. Peserta pun mendapat kesempatan mencoba proses tersebut secara langsung.
Dalam praktiknya, peserta menggunakan ChatGPT untuk melakukan restorasi foto lama. Praktik ini memberi pengalaman kepada peserta dalam memanfaatkan AI untuk merawat arsip sejarah.
Restorasi Foto Beda dengan Manipulasi
Deni mengingatkan peserta agar memahami perbedaan antara restorasi dan manipulasi foto. Menurutnya, batas tersebut penting saat masyarakat menggunakan AI untuk mengolah foto bersejarah.
Restorasi dapat berupa pembersihan noda, peningkatan resolusi, perbaikan warna, dan penguatan detail wajah. Proses tersebut tetap mempertahankan identitas serta informasi utama dalam foto.
Sementara itu, manipulasi dapat mengubah wajah atau menambahkan objek yang tidak terdapat dalam foto asli. Perubahan seperti itu berpotensi menghilangkan nilai sejarah sebuah arsip.
Karena itu, Deni menekankan penggunaan AI harus tetap menjaga keaslian sejarah.
“Dulu sejarah tersimpan dalam gedung, tetapi zaman sekarang diri kita bisa menyimpan sejarah itu,” ujar Deni.
Menurutnya, perkembangan teknologi memberi kesempatan bagi setiap orang untuk menyimpan dan mengelola sejarah keluarganya.
Peserta Praktik Membuat Konten Sejarah
Peserta tidak hanya belajar restorasi foto. Mereka juga mencoba membuat konten sejarah berbasis foto lama.
Dalam praktik tersebut, peserta belajar menyusun artikel budaya dan keterangan foto dengan gaya museum.
Mereka juga mencoba membuat video pendek menggunakan Google Flow dengan teknologi Veo 3.
Peserta menyusun prompt agar foto lama dapat bergerak menjadi animasi singkat. Narasi dan visual tetap perlu menyesuaikan konteks zaman pada foto.
Dengan cara tersebut, AI dapat membantu menghadirkan cerita sejarah dalam format yang lebih menarik.
Deni sengaja memperbanyak sesi praktik agar peserta dapat langsung menggunakan teknologi setelah menerima materi.
“Saya tidak mau banyak teori di sini, saya mau mengajak praktik saja,” katanya.
AI Bantu Digitalisasi Arsip Keluarga
Deni juga membagikan cara sederhana untuk mengelola arsip keluarga. Ia mengajak peserta menyimpan foto dan dokumen secara teratur agar tidak mudah hilang.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan ialah membuat format nama file secara konsisten. Contohnya,
[Tahun_Keluarga_Bapak Karim Mencuci Motor].
Masyarakat dapat menyimpan arsip tersebut di Google Drive atau hard disk eksternal. Penyimpanan digital juga memudahkan keluarga menemukan kembali dokumen pada masa mendatang.
Arsip yang tertata dapat membantu generasi berikutnya memahami konteks setiap foto. Langkah sederhana tersebut juga membuat sejarah keluarga lebih mudah dirawat.
AI Bawa Deni Kembali ke UNAIR
Kuliah umum tersebut memiliki cerita khusus bagi Deni. Ia mengaku memiliki perjalanan dengan UNAIR sejak 2013.
Saat itu, Deni pernah mendapat penolakan ketika ingin masuk UNAIR. Kini, 13 tahun kemudian, ia kembali ke kampus tersebut sebagai narasumber kuliah umum tentang AI dan warisan budaya.
“Saya juga punya sejarah dengan UNAIR. Dulu 2013 saya ditolak UNAIR dan saat ini 2026 saya bisa hadir di UNAIR menjadi narasumber berkat AI,” ungkap Deni.
Kisah tersebut menjadi bagian menarik dalam kegiatan Museum Digital UNAIR. Teknologi yang kini ia gunakan untuk berkarya justru membawanya kembali ke kampus yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Melalui kegiatan tersebut, peserta mendapat pengalaman langsung menggunakan AI untuk restorasi foto lama, digitalisasi arsip, dan pembuatan konten sejarah. Teknologi pun dapat menjadi alat untuk menjaga memori keluarga sekaligus memperkuat literasi sejarah di era digital.
