SURABAYA, Selasarnusantara.com – Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur masih berada di atas 5 persen pada 2026. Namun, tekanan inflasi dan tingginya sensitivitas sektor manufaktur terhadap biaya energi menjadi tantangan yang perlu diantisipasi hingga akhir tahun.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak menyampaikan hal tersebut saat menjadi keynote speaker dalam Privilege Conversation Mid-Year Market Outlook 2026 yang digelar UOB Privilege Banking di Grand Ballroom Sheraton Surabaya Hotel & Towers, Senin (14/9/2026) malam.
Forum bertema Beyond Uncertainty: Capturing Opportunities in The New Economic Cycle itu sekaligus menjadi ruang bagi UOB Indonesia untuk membahas perkembangan pasar dan pentingnya strategi finansial yang disesuaikan dengan kondisi setiap nasabah.
Ekonomi Jatim Tumbuh 5,72 Persen
Emil menyebut perekonomian Jawa Timur tumbuh 5,72 persen secara tahunan pada kuartal II 2026. Secara kumulatif sepanjang Januari-Juni 2026, pertumbuhan ekonomi Jatim mencapai 5,84 persen.
Jawa Timur juga menjadi salah satu penopang ekonomi nasional dengan kontribusi lebih dari 14 persen. Nilai PDRB provinsi ini disebut mencapai sekitar Rp930 triliun dalam satu kuartal.
Struktur ekonomi Jatim masih banyak ditopang sektor manufaktur dan perdagangan. Kondisi tersebut membuat perubahan biaya produksi, khususnya energi, menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
Inflasi dan Biaya Energi Jadi Tantangan
Di tengah pertumbuhan ekonomi tersebut, Emil menyoroti tekanan inflasi. Inflasi Jawa Timur pada Agustus 2026 tercatat 3,32 persen secara tahunan.
Menurut Emil, tekanan inflasi tidak selalu berasal dari tingginya permintaan. Hambatan pasokan atau bottleneck pada sektor riil juga dapat meningkatkan biaya produksi dan pada akhirnya mendorong inflasi.
Karena itu, menurutnya, penanganan inflasi tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan suku bunga. Faktor produksi dan kelancaran pasokan juga perlu diperhatikan.
Stabilitas Energi Penting bagi Industri
Besarnya kontribusi industri pengolahan membuat Jawa Timur cukup sensitif terhadap perubahan biaya energi.
Emil menilai kepastian harga energi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas biaya produksi. Pemerintah disebut telah memberikan jaminan harga BBM tidak naik hingga akhir 2026.
Kepastian tersebut diharapkan mampu menjaga ekspektasi masyarakat dan dunia usaha sehingga tidak muncul gejolak akibat kekhawatiran terhadap kenaikan harga energi.
UOB Ubah Pendekatan Layanan Nasabah
Sementara itu, UOB Indonesia melihat kondisi pasar yang dinamis membutuhkan pendekatan layanan yang lebih personal.
Head of Consumer Banking UOB Indonesia Herman Soesetyo mengatakan UOB memperkuat konsep client centric, terutama untuk nasabah segmen privilege.
Artinya, layanan tidak lagi semata-mata berangkat dari produk yang tersedia. Kebutuhan, tujuan finansial, tahapan kehidupan, serta profil risiko nasabah menjadi pertimbangan sebelum memberikan rekomendasi.
UOB juga menempatkan client advisor sebagai titik kontak utama agar kebutuhan nasabah, mulai dari konsultasi investasi hingga layanan perbankan lainnya, dapat ditangani secara lebih personal.
Investasi Harus Sesuai Profil Risiko
Head of Deposit & Wealth Management UOB Indonesia Emillya Soesanto menegaskan bahwa strategi investasi tidak dapat diseragamkan untuk seluruh nasabah.
Menurutnya, keputusan investasi perlu diawali dengan memahami tujuan finansial dan tingkat risiko masing-masing individu. Setelah fondasi tersebut diketahui, barulah instrumen yang sesuai dapat dipertimbangkan.
Pendekatan ini menjadi semakin penting ketika kondisi pasar menghadapi ketidakpastian dan perubahan ekonomi global.
Layanan Digital dan Edukasi Terus Diperkuat
UOB juga memperkuat layanan digital untuk mendukung aktivitas nasabah privilege. Lebih dari separuh nasabah prioritas disebut telah menggunakan platform digital untuk berbagai kebutuhan, termasuk transaksi investasi.
Selain akses digital, edukasi pasar dinilai tetap penting. Informasi dan market outlook yang diberikan secara berkala diharapkan membantu nasabah memahami situasi sebelum menentukan keputusan finansial.
Dengan kondisi ekonomi yang tetap tumbuh namun dibayangi tekanan inflasi, strategi hingga akhir 2026 pada akhirnya perlu disesuaikan dengan tujuan finansial, kemampuan menghadapi risiko, dan kebutuhan masing-masing nasabah.