LAMONGAN, Selasarnusantara.com – Festival Dayung Tejoasri (FDT) ke-4 kembali digelar di Bengawan Mati, Desa Tejoasri, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, Minggu (9/8/2026). Sebanyak 32 tim dari berbagai daerah di Jawa Timur ikut bersaing dalam perlombaan tersebut.
Ribuan warga memadati tepian sungai sejak pagi. Mereka datang untuk menyaksikan perlombaan perahu tradisional yang terus berkembang sebagai salah satu daya tarik sport tourism Lamongan.
32 Tim Adu Cepat di Bengawan Mati
Para peserta tidak hanya mengejar kemenangan di lintasan. Mereka juga tampil dengan berbagai kostum unik saat mengikuti Festival Dayung Tejoasri 2026.
Beberapa peserta mengenakan pakaian adat dan kostum superhero. Ada pula peserta yang tampil dengan konsep cosplay tuyul.
Keunikan tersebut menambah daya tarik perlombaan. Penonton pun mendapat hiburan lain selain persaingan antartim di atas sungai.
Festival ini melibatkan 32 tim dari tujuh kabupaten dan kota di Jawa Timur.Mereka beradu cepat menggunakan perahu tradisional di Bengawan Mati.
Festival Gerakkan Ekonomi Warga
Ramainya Festival Dayung Tejoasri juga membawa dampak bagi masyarakat sekitar. Puluhan pelaku UMKM memanfaatkan kedatangan ribuan pengunjung untuk menjual berbagai produk.
Produk kuliner dan kerajinan menjadipilihan utama para pelaku usaha. Kondisi tersebut membuat festival tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga membantu menggerakkan ekonomi lokal.
Bupati Lamongan Yuhronur Efendi mengapresiasi perkembangan festival yang terus mengalami peningkatan setiap tahun.
Menurutnya, Festival Dayung Tejoasri mampu menggabungkan olahraga tradisional dengan potensi wisata di kawasan Bengawan Mati.
“Kita bisa melihat, festival dayung ini makin baik dari tahun ke tahun. Selalu menuju lebih baik dan terus berbenah, dari penyelenggaraannya, pesertanya, sampai panitianya,” ujar Yuhronur
setelah menyerahkan hadiah kepada para pemenang.
Pemprov Jatim Dorong Standar Olahraga
Perkembangan Festival Dayung Tejoasri juga mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Jawa Timur Muhammad Hadi Wawan Guntoro membuka peluang peningkatan standar perlombaan.
Menurutnya, festival tersebut dapat berkembang menjadi ajang yang tidak hanya memberikan hiburan. Event ini juga berpotensi mendukung prestasi olahraga.
“Mungkin ke depan bisa ada standarisasinya. Sehingga kegiatan ini bukan hanya jadi olahraga dan hiburan yang lahir dari masyarakat, tapi juga dengan standarisasi bisa menyumbang kontribusi pada prestasi,” ungkap Hadi.
Ia berharap pengembangan tersebut dapat memberi manfaat bagi Lamongan, Jawa Timur, hingga Indonesia.
Desa Tejoasri Siap Dukung Pengembangan
Kepala Desa Tejoasri Yusuf Bachtiar menyambut baik peluang pengembangan Festival Dayung Tejoasri. Ia menyatakan pemerintah desa siap mengikuti arahan Pemprov Jatim jika festival tersebut masuk agenda rutin.
“Kita selalu terbuka kalau misalkan Pemprov Jatim melirik Desa Tejoasri untuk dijadikan agenda rutin ke depan,” kata Yusuf.
Menurutnya, pengembangan festival dapat dilakukan bersama dengan tetap memperhatikan aspek teknis dan kebutuhan penyelenggaraan.
Tim Sidoarjo Keluar sebagai Juara
Persaingan 32 tim akhirnya
menghasilkan sejumlah pemenang. Tim dayung Desa Jumputrejo, Kabupaten Sidoarjo, berhasil meraih juara pertama.
Tim tersebut mengalahkan Desa Pupus, Kecamatan Blawi, Kabupaten Lamongan, yang menempati posisi kedua.
Sementara itu, posisi ketiga diraih Desa Tebaloan, Kabupaten Gresik. Desa Jelak Catur, Kabupaten Lamongan, berada di posisi keempat.
Hasil tersebut menutup rangkaian Festival Dayung Tejoasri 2026 yang sekaligus memperkuat potensi Bengawan Mati sebagai destinasi wisata olahraga di Kabupaten Lamongan.
