JAKARTA, Selasarnusantara.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengajak masyarakat memperkuat ikhtiar spiritual melalui salat Istisqa, pembacaan Qunut Nazilah, dan memperbanyak istighfar di tengah upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia. Seruan ini disampaikan bersamaan dengan upaya pemerintah menangani kebakaran serta dampaknya terhadap kesehatan dan kehidupan masyarakat.
Wakil Sekretaris Jenderal MUI Pusat, Dr. K.H. Arif Fahrudin, M.Ag., menegaskan bahwa ikhtiar lahir dan batin perlu berjalan beriringan. Menurutnya, kerja petugas untuk memadamkan api perlu didukung doa masyarakat agar hujan segera turun dan kondisi di wilayah terdampak membaik.
“Pemerintah sedang berjibaku memadamkan api, rakyat terdampak kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Kejar pembakar lahannya, dan mari sertakan doa serta salat Istisqa,” ujar Arif di Masjid Istiqlal Jakarta, sebagaimana dikutip dari siaran resmi MUI, Minggu (18/10/2026).
Gerakan Doa Digelar di Sejumlah Daerah
Seruan doa untuk memohon hujan juga dilakukan di berbagai daerah. MUI Jambi menerbitkan surat edaran agar jajaran di wilayahnya melaksanakan salat Istisqa dan membaca Qunut Nazilah setiap Jumat.
Sementara itu, MUI Kalimantan Selatan mengajak masyarakat melaksanakan salat istighfar. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara menggelar doa lintas agama di halaman kantor bupati, sedangkan Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mengajak masyarakat melaksanakan salat Istisqa di Griya Agung, Palembang.
Kegiatan serupa juga dilaporkan berlangsung di wilayah lain, termasuk oleh Polsek Binawidya Padang dan Pemerintah Kabupaten Barito Utara.
Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bentuk ikhtiar spiritual masyarakat di tengah bencana yang berdampak pada kesehatan, pendidikan, aktivitas ekonomi, dan lingkungan.
Ratusan Tersangka Ditangani dalam Kasus Karhutla
Selain mengandalkan upaya pemadaman, aparat penegak hukum terus menangani dugaan tindak pidana pembakaran lahan.
Berdasarkan laporan yang dikutip dari Jatimnow.com, Bareskrim Polri menetapkan sembilan perusahaan perkebunan sawit sebagai tersangka dalam kasus karhutla. Tujuh perusahaan di antaranya berada di Kalimantan Barat.
Dalam penanganan kasus perorangan, sebanyak 223 orang juga dilaporkan telah ditetapkan sebagai tersangka dari 273 laporan polisi. Luas lahan yang terbakar dalam data tersebut mencapai 25.600 hektare.
Penegakan hukum diharapkan berjalan seiring dengan upaya pencegahan agar kebakaran tidak terus meluas dan menimbulkan dampak lebih besar bagi masyarakat.
Ribuan Personel Dikerahkan, ISPA Jadi Perhatian
Upaya pemadaman melibatkan sekitar 10.700 personel gabungan dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, dan relawan. Penanganan turut didukung helikopter untuk operasi water bombing serta operasi modifikasi cuaca.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebagaimana diberitakan Jatimnow.com, mencatat kondisi di Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Riau, dan Jambi mulai membaik. Sementara itu, Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan masih menjadi wilayah prioritas penanganan.
Dampak kesehatan juga menjadi perhatian. Kementerian Kesehatan melaporkan sebanyak 283.270 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tujuh provinsi terdampak selama periode 18 Agustus hingga 13 Oktober 2026.
Data tersebut menunjukkan pentingnya penanganan karhutla secara berkelanjutan, termasuk melindungi kelompok rentan dari paparan asap dan memastikan masyarakat terdampak memperoleh layanan kesehatan.
MUI Ajak Masyarakat Perkuat Kebersamaan
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mengingatkan masyarakat agar menghadapi situasi tersebut dengan semangat kebersamaan, bukan saling menyalahkan.
“Upaya sudah dilakukan semua pihak. Tentu kita memohon kepada Allah SWT untuk diberikan hujan. Ini bukan waktunya saling menyalahkan,” ujarnya.
Seruan MUI menempatkan doa sebagai bagian dari ikhtiar masyarakat di tengah bencana. Pada saat yang sama, pemadaman, pencegahan kebakaran, penegakan hukum, dan perlindungan kesehatan tetap menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla.


